Paviliun Barcelona,
Pengalaman Visual Dengan Reflektivitas...
Sebuah
karya arsitektur yang di sebut-sebut sebagai karya teladan arsitektur modern
yakni Paviliun Barcelona telah menciptakan sebuah pengalaman fenomenologis
terhadap pengunjung dan pengamatnya. Sebuah karya dari seorang arsitek Ludwig
Mies van der Rohe ini berada di Barcelona – Spanyol, kesan sederhana mungkin
adalah yang pertama terlihat dari Paviliun ini. Namun siapa sangka, proyek yang
menghabiskan waktu yang relatif singkat ini berusaha menciptakan sebuah cara
bagaimana pengunjung dan pengamatnya dapat melihat secara luas dan dapat
berinteraksi dengan struktur bangunan yang terdiri dari garis, bidang, hingga
menjadi ruang. Pavilion Barcelona ini mengajak pengunjung dan pengamatnya untuk
merasakan sebuah petualangan visual nan apik yang diformulasikan dengan cermat
dan ketelitian, dimana memunculkan pelbagai teknik persepsi yang beranekaragam.
Paviliun
Barcelona memiliki kualitas asimetris yang kontras dengan lingkungannya. Ketika
pengunjung mendekati Paviliun, terdapat elemen-elemen linier yang secara tidak
langsung membentuk sebuah bidang yang berfungsi untuk mendefinisikan
batas-batas sebuah ruang atau volumenya. Pengunjung akan dipaksa untuk
mengikuti jalur linier yang berkelok yang kemungkinan besar mereka ikuti
melalui keseluruhan eksposisi.
Paviliun
ini berdiri diatas elemen-elemen berbentuk bidang (planar) atau yang biasa
disebut bidang dasar. Bidang dasar sejatinya berfungsi untuk menopang segala
jenis konstrusi arsitektural. Paviliun ini berdiri diatasnya dan menyatu dengan
bidang dasarnya. Bidang planar yang menopang Paviliun ini dimanipulasi
sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah podium yang ditinggikan bagi Paviliun
itu sendiri. Dengan menempatkan Paviliun di atas podium, Mies telah menciptakan
rasa kedatangan (welcoming) dan
kemegahan, memberikan transisi kualitas spasial dimana membuat pengunjung
tersadar bahwa mereka menapaki lingkungan yang khusus dan berbeda secara
drastis darimana mereka datang.
Setelah
keluar bangunan, bidang lantai yang tadinya ditinggikan, akan kembali rata
dengan bidang planarnya. Sehingga kesan selaras tercipta disepanjang jalur
perjalanan dan jalur pameran, elemen-elemen ini digunakan untuk mengembalikan
kesan pengunjung kedalam rasa keteraturan dan simetri, memungkinkan mereka
tersadar untuk merenungkan perjalanan mereka melalui bangunan.
Pavilion
Barcelona ini diapit kedua sisinya oleh bidang fasad yang klasik nan
monumental, tersusun secara aksial diantara deretan kolom ionik dan satu set
tangga besar, dan penempatan Paviliun sendiri menciptakan datum atau data yang
didalamnya dapat diukur asimetrisnya. Meskipun Paviliun ini sangat asimetris
dalam rencana strukturalnya, namun mampu menciptakan rasa keteraturan. Misalnya
sebuah bidang dindingnya, ketika dilihat dalam rencana bangunan, terlihat seperti ditempatkan secara
acak tak beraturan dan tentunya tidak simetris, namun ketika ditinjau pada
ketinggian tertentu dapat dilihat bahwa bahan itu sendiri menampilkan banyak
bidang simetri cermin.
Hal
yang sama berlaku untuk kolam, pelat atap, jendela, yang masing-masing memiliki
setidaknya tiga sumbu simetri refleksi yang menghasilkan penjajaran yang
berbeda antara setiap komposisi struktural asimetris dan bahan bangunan yang
sangat simetris. Konsep-konsep tersebut berkerja sama mengganti keteraturan
bahan untuk rencana simetrinya, mengutip dari perkataan H.R. Hitchcock dan
Philip Johnson: “Standarisasi secara otomatis memberikan tingkat konsistensi
yang tinggi di bagian-bagiannya. Oleh karena itu, arsitek modern tidak
memerlukan disiplin simetri bilateral atau aksial untuk mencapai tatanan
estetika. Skema desain asimetris sebenarnya lebih disukai secara estetika dan
teknis. Untuk asimetri tentu meningkatkan minat umum komposisi.”
Dengan
mengutamakan struktur asimetrinya dengan bahan dipadu bidang dan elemen-elemen
komponen simetris yang reflektif, Mies telah menciptakan sebuah bangunan yang
secara visual unik, walaupun kesan berbeda terlihat di lingkungannya, namun
inilah yang menjadi sebuah komposisi yang harmonis dan menyenangkan, dimana
ruang tersebut mengandung unsur geometri.
Selain
pemilihan lokasi dan komposisi bangunan yang sangat teliti dan cermat bagi
Paviliun secara menyeluruh, Mies sangat selektif dalam memilih material dan
penempatan bahan yang akan digunakan pada bangunannya. Sejumlah besar proses
desain dikhususkan untuk mengeksplorasi kulit pembungkus bidang pada partisi
interiornya, yang dikenal sebagai dinding terapung. Menolak untuk bergantung
pada material untuk elemen penting ini, Mies akhirnya memutuskan sepotong
lempengan onyx emas dan disekitar bagian inilah sisa Paviliun yang lain muncul
karena ukurannya menentukan ketinggian ruang. Ketika ketinggian bangunan
terlaksana, Mies mulai beralih untuk mendesain furnitur dan memilih patung
Morgen berdasarkan dimensi ini.
Setelah
memilih untuk menggunakan dinding onyx, warna material dan struktur mulai
membentuk artikulasi. Kilapan yang sejajar bersandingan, marmer yang berurat
dengan kaca yang tembus pandang, dan refleksinya meningkatkan pengalaman
spasial. Penggunaan dinding travertine menggemakan material disekitarnya,
sementara marmer hijau ditempatkan di sekitar kolam tampaknya merupakan kelanjutan
dari kanopi diatas yang dengan kuatnya menancapkan struktur yang otonom ke
bangunan spesifik ini.
Pada
bangunan Paviliun Barcelona ini juga menimbulkan persepsi terhadap peran
reflektivitas dan transparansinya. Secara fisik Paviliun dapat dibangun dari
material travertine, onyx, kaca, baja, atau plesteran, yang membentuk
pengalaman ruang adalah refleksinya. Mungkin pada saat itu bahan-bahan yang
digunakan sebagai produk teknologi sudah biasa, tetapi kemungkinan besar Mies
memilihnya dengan selektif karena reflektivitasnya. Prinsi ini terlihat jelas
pada kolom baja yang dipoles begitu ramping dan reflektif, sehingga tampak
sepenuhnya hilang tersamarkan.
Material
selanjutnya yang digunakan yaitu air, melapisi dasar kolamnya dengan batu hitam
akan menjadi cermin horizontal besar dan menciptakan bidang simetri yang
menyeluruh. Saat pengunjung mengelilingi paviliun, efek yang ditimbulkan adalah
kabur atau berpencar karena dinding dibubarkan oleh pantulan mereka sendiri.
Kolam sendiri berupa bidang dasar yang diturunkan atau direndahkan agar menjadi
bidang vertikal yang digunakan sebagai wadah volume air atau konstruksi
arsitektur. Bidang vertikal hasil penurunan ini akan menciptakan batas-batas
areanya dengan membentuk dinding disekeliling ruang tersebut. Area ruangnya
ditegaskan dengan kontras terhadap area permukaan yang mengelilinginya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar