Jumat, 31 Januari 2020

Paviliun Barcelona, Pengalaman Visual Dengan Reflektivitas... [Reviewed by MKP - partofsharehere]


Paviliun Barcelona, Pengalaman Visual Dengan Reflektivitas...

Sebuah karya arsitektur yang di sebut-sebut sebagai karya teladan arsitektur modern yakni Paviliun Barcelona telah menciptakan sebuah pengalaman fenomenologis terhadap pengunjung dan pengamatnya. Sebuah karya dari seorang arsitek Ludwig Mies van der Rohe ini berada di Barcelona – Spanyol, kesan sederhana mungkin adalah yang pertama terlihat dari Paviliun ini. Namun siapa sangka, proyek yang menghabiskan waktu yang relatif singkat ini berusaha menciptakan sebuah cara bagaimana pengunjung dan pengamatnya dapat melihat secara luas dan dapat berinteraksi dengan struktur bangunan yang terdiri dari garis, bidang, hingga menjadi ruang. Pavilion Barcelona ini mengajak pengunjung dan pengamatnya untuk merasakan sebuah petualangan visual nan apik yang diformulasikan dengan cermat dan ketelitian, dimana memunculkan pelbagai teknik persepsi yang beranekaragam.


Paviliun Barcelona memiliki kualitas asimetris yang kontras dengan lingkungannya. Ketika pengunjung mendekati Paviliun, terdapat elemen-elemen linier yang secara tidak langsung membentuk sebuah bidang yang berfungsi untuk mendefinisikan batas-batas sebuah ruang atau volumenya. Pengunjung akan dipaksa untuk mengikuti jalur linier yang berkelok yang kemungkinan besar mereka ikuti melalui keseluruhan eksposisi.


Paviliun ini berdiri diatas elemen-elemen berbentuk bidang (planar) atau yang biasa disebut bidang dasar. Bidang dasar sejatinya berfungsi untuk menopang segala jenis konstrusi arsitektural. Paviliun ini berdiri diatasnya dan menyatu dengan bidang dasarnya. Bidang planar yang menopang Paviliun ini dimanipulasi sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah podium yang ditinggikan bagi Paviliun itu sendiri. Dengan menempatkan Paviliun di atas podium, Mies telah menciptakan rasa kedatangan (welcoming) dan kemegahan, memberikan transisi kualitas spasial dimana membuat pengunjung tersadar bahwa mereka menapaki lingkungan yang khusus dan berbeda secara drastis darimana mereka datang.
Setelah keluar bangunan, bidang lantai yang tadinya ditinggikan, akan kembali rata dengan bidang planarnya. Sehingga kesan selaras tercipta disepanjang jalur perjalanan dan jalur pameran, elemen-elemen ini digunakan untuk mengembalikan kesan pengunjung kedalam rasa keteraturan dan simetri, memungkinkan mereka tersadar untuk merenungkan perjalanan mereka melalui bangunan.
Pavilion Barcelona ini diapit kedua sisinya oleh bidang fasad yang klasik nan monumental, tersusun secara aksial diantara deretan kolom ionik dan satu set tangga besar, dan penempatan Paviliun sendiri menciptakan datum atau data yang didalamnya dapat diukur asimetrisnya. Meskipun Paviliun ini sangat asimetris dalam rencana strukturalnya, namun mampu menciptakan rasa keteraturan. Misalnya sebuah bidang dindingnya, ketika dilihat dalam rencana  bangunan, terlihat seperti ditempatkan secara acak tak beraturan dan tentunya tidak simetris, namun ketika ditinjau pada ketinggian tertentu dapat dilihat bahwa bahan itu sendiri menampilkan banyak bidang simetri cermin.


Hal yang sama berlaku untuk kolam, pelat atap, jendela, yang masing-masing memiliki setidaknya tiga sumbu simetri refleksi yang menghasilkan penjajaran yang berbeda antara setiap komposisi struktural asimetris dan bahan bangunan yang sangat simetris. Konsep-konsep tersebut berkerja sama mengganti keteraturan bahan untuk rencana simetrinya, mengutip dari perkataan H.R. Hitchcock dan Philip Johnson: “Standarisasi secara otomatis memberikan tingkat konsistensi yang tinggi di bagian-bagiannya. Oleh karena itu, arsitek modern tidak memerlukan disiplin simetri bilateral atau aksial untuk mencapai tatanan estetika. Skema desain asimetris sebenarnya lebih disukai secara estetika dan teknis. Untuk asimetri tentu meningkatkan minat umum komposisi.”
Dengan mengutamakan struktur asimetrinya dengan bahan dipadu bidang dan elemen-elemen komponen simetris yang reflektif, Mies telah menciptakan sebuah bangunan yang secara visual unik, walaupun kesan berbeda terlihat di lingkungannya, namun inilah yang menjadi sebuah komposisi yang harmonis dan menyenangkan, dimana ruang tersebut mengandung unsur geometri.




Selain pemilihan lokasi dan komposisi bangunan yang sangat teliti dan cermat bagi Paviliun secara menyeluruh, Mies sangat selektif dalam memilih material dan penempatan bahan yang akan digunakan pada bangunannya. Sejumlah besar proses desain dikhususkan untuk mengeksplorasi kulit pembungkus bidang pada partisi interiornya, yang dikenal sebagai dinding terapung. Menolak untuk bergantung pada material untuk elemen penting ini, Mies akhirnya memutuskan sepotong lempengan onyx emas dan disekitar bagian inilah sisa Paviliun yang lain muncul karena ukurannya menentukan ketinggian ruang. Ketika ketinggian bangunan terlaksana, Mies mulai beralih untuk mendesain furnitur dan memilih patung Morgen berdasarkan dimensi ini.


Setelah memilih untuk menggunakan dinding onyx, warna material dan struktur mulai membentuk artikulasi. Kilapan yang sejajar bersandingan, marmer yang berurat dengan kaca yang tembus pandang, dan refleksinya meningkatkan pengalaman spasial. Penggunaan dinding travertine menggemakan material disekitarnya, sementara marmer hijau ditempatkan di sekitar kolam tampaknya merupakan kelanjutan dari kanopi diatas yang dengan kuatnya menancapkan struktur yang otonom ke bangunan spesifik ini.
Pada bangunan Paviliun Barcelona ini juga menimbulkan persepsi terhadap peran reflektivitas dan transparansinya. Secara fisik Paviliun dapat dibangun dari material travertine, onyx, kaca, baja, atau plesteran, yang membentuk pengalaman ruang adalah refleksinya. Mungkin pada saat itu bahan-bahan yang digunakan sebagai produk teknologi sudah biasa, tetapi kemungkinan besar Mies memilihnya dengan selektif karena reflektivitasnya. Prinsi ini terlihat jelas pada kolom baja yang dipoles begitu ramping dan reflektif, sehingga tampak sepenuhnya hilang tersamarkan.




Material selanjutnya yang digunakan yaitu air, melapisi dasar kolamnya dengan batu hitam akan menjadi cermin horizontal besar dan menciptakan bidang simetri yang menyeluruh. Saat pengunjung mengelilingi paviliun, efek yang ditimbulkan adalah kabur atau berpencar karena dinding dibubarkan oleh pantulan mereka sendiri. Kolam sendiri berupa bidang dasar yang diturunkan atau direndahkan agar menjadi bidang vertikal yang digunakan sebagai wadah volume air atau konstruksi arsitektur. Bidang vertikal hasil penurunan ini akan menciptakan batas-batas areanya dengan membentuk dinding disekeliling ruang tersebut. Area ruangnya ditegaskan dengan kontras terhadap area permukaan yang mengelilinginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar