Louis
Vuitton Foundation, suguhan Arsitektur omnidirectional di tengah Kota Paris...
Salah
satu mahakarya terbesar ditengah kota Paris tepatnya di 8, Avenue du Mahatma Gandhi Bois de Boulogne ini adalah karya dari salah
satu arsitek ternama yakni Frank Gehry. Membutuhkan delapan tahun untuk
dibangun, museum yang didedikasikan bagi dunia seni kontemporer dan menjadi
kebanggaan baru bagi kota Paris. Louis Vuitton, brand fashion prestisius
dari luxury market kembali terlibat dalam perkembangan dunia
seni dengan dibangunnya Louis Vuitton Fondation, sebuah museum dan pusat budaya
untuk mempromosikan seni kontemporer.
Secara
historis, Frank Gehry menganut apa yang disebut Katolik Arsitektur, arsitek
katedral selalu menggunakan kekuatan arsitektur yang subjective dan terkadang
memberikan sentuhan mewah dan formal untuk mengondisikan penganutnya terhadap
pesan yang disampaikan didalamnya. Dari segi bangunannya juga Frank memberi
sentuhan formal yang berbeda daripada yang lainnya, jika arsitek lain mendesain
bangunan dengan memberi elemen garis yang tegak lurus dan terkesan tegas namun
berbeda dengan Frank, dia mendesain bangunan dengan menggunakan elemen garis
lengkung yang di rangkai hingga membentuk sebuah bangunan sedemikian rupa yang
menimbulkan persepsi yang berbeda mengenai bangunan seperti apakah Louis
Vuitton Foundation ini?
Banyak
persepsi yang menerjemankan seperti bentuk apakah bangunan ini, ada yang
menginterpretasikan seperti layar, ada yang melihatnya seperti perahu, bahkan
terlihat seperti sebuah istana kristal. Menurut standart Gehry, tidak ada
museum kontemporer dimanapun yang lebih memikat daripada Louis Vuitton
Foundation. Bangunan yang dilengkapi dengan beberapa material kaca yang 3
diantaranya ditempatkan sebagai atap adalah paling besar, bentuk bidang yang
melengkung hampir mirip seperti layar tanpa perahu. Menurutnya, itu adalah
sebuah visi yang memprovokasi seorang psikolog yang benar-benar sadar dan
benar-benar mengamati bangunan itu seolah-olah terkesan betapa lembut tampak
warnanya, dan hidup karena tumbuh-tumbuhan dan setting yang mengelilinginya
tampak perpaduan harmonis.
Seperti
bangunan klasik lainnya yang dihiasi kolom, atau bangunan bergaya Victoria
dengan pola, warna, dan bahan dekoratif, Vuitton memimpin dengan
fasad-fasadnya. Seperti halnya Charles Garnier yang membubuhi Beaux-Arts Opéra
dengan kelereng polikromatik, Gehry menyelubungi gedungnya dengan lembaran kaca
yang hening. Tapi tidak seperti bangunan planimetri Garnier, dengan fasad yang
pada dasarnya melukis marmer pada permukaan dua dimensi, fasad Gehry adalah
omnidirectional (pancaran kesegala arah) dan tiga dimensi, dengan 12 layar kaca
yang melekat pada inti bangunan, ke apa yang ia sebut "gunung es."
Layar tidak memiliki tujuan fungsional.
Setting
bangunan yang seperti taman berhutan di sebelah taman anak-anak menjadikan
Gehry melanggar salah satu perintah dasar modernisme, dia menghias, tanpa
menahan dan meminta maaf. Artinya, dia telah membalik hierarki arsitektur yang
biasa dan menjadikan fundamental yang tidak penting, mejadikan Vuitton sebagai
karya yang sangat berbeda dari segi eksteriornya daripada karya-karya lainnya.
Perhatiannya
terhadap desain eksterior tidak berarti dia mengabaikan interiornya,
karya-karya Gehry terkenal dengan eksterior yang spektakuler namun
kekurangannya berada pada interior yang sering di kritik karena hanya
“dibungkus”. Tetapi, persepsi ini tidak berlaku pada karyanya Louis Vuitton
Foundation ini, pengunjung masuk kedalam salah satu layar Vuitton yang menjadi
sumber cahaya dan terkesan lapang. Aula kaca yang didominasi dengan grid-grid
tegak dan terkesan kokoh menjulang tinggi membagi dua bangunan, memberikan
pemandangan ke belakang ke kandang berkuda dan Jardin d’Acclimatation, taman
anak-anak yang memengaruhi pemikiran Gehry.
Seperti
dibuat dengan cermat seperti tas tangan Vuitton, satu set pintu kaca yang
dibingkai dengan baja stainless yang disikat dan di tempatkan berada di kiri ke
tangga di depan, dan satu set lainnya mengarah ke eskalator di belakang, di
kedua sisi galeri yang mulai di ruang bawah tanah dan melanjutkan lantai
pertama dan kedua. Sangat kokoh dan mewah adalah interpretasi yang disuguhkan
pada interiornya, kesan formal tetap senantiasa terlihat melalui garis-garis
kaca yang saling sambung-menyambung membentuk pola melingkupi bangunannya.
Sirkulasi
didalam ruang interiornya disepanjang jalur tidak ditentukan polanya,
pengunjung memulai perjalanan episodik melalui ruang tidak berulang yang
memerkenalkan mereka kedalam galeri satu per satu. Sirkulasi pada Louis Vuitton
Foundation ini bukanlah penghasil organisasi, seperti yang terjadi pada puncak
ideologi Modernis, tetapi diaplikasikan pada ruang interstisial antar galeri
yang dipesan sendiri seperti rumah di pedesaan pada abad pertengahan.
Penuh
dengan elemen-elemen geometri, biasanya pengunjung bisa menemukan jalan mereka
melalui gedung, sama halnya dengan Vuitton ini,walaupun bertentangan dengan
semua aturan museum yang kotak dan rapat, justru daya tarik tersendiri
ditonjolkan bangunan ini pengunjung dapat melihat-lihat dan mengamati sekitar
menemukan jalan mereka, karena semua galeri di gedung berlantai tiga ini
memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda dan dibiarkan longgar bukan rapat,
padat, dan berbentuk kotak interiornya.
Di
atas galeri, eskalator belakang dan tangga bersudut yang diproyeksikan di luar
tubuh bangunan, mengarah ke teras atap bertingkat yang membentuk lereng bukit
padang rumput beraspal, semuanya di bawah layar kaca yang ditopang pada hutan
penopang baja bersudut dan balok-balok keluar dari bangunan inilah yang
strukturnya menyerupai anggota-anggota pohon centenarian. Ruang terbuka publik
bersama dengan jalur hiking melalui
topografi yang berbukit baru dipindahkan ke atap. Lantai batu kapur dan panel
dinding beton putih diatur dengan ketat sedemikian rupa dalam pola tertentu
yang memberi semua permukaannya seperti bergerak. Gerakan grafis dan pahatan
bangunan inilah yang mendorong pengunjung untuk bergerak di dalam ruang-ruang
yang berputar. Bangunan bermaterial kaca tampaknya bergerak, lantai dan dinding
ubin yang memiliki pola tampaknya bergerak, matahari membuat semuanya bergerak,
mendorong pengunjung juga untuk bergerak.
Balok
yang didesain Gehry yang miring ke segala arah yang berputar pada buku-buku
jari baja yang besar namun dirancang secara elegan, mengomentari dan
mendekonstruksi menara baja simetris Gustave Eiffel. Dia menetap di satu set
galeri yang dirakit secara longgar di tiga lantai, masing-masing dengan ruang
di antara yang memungkinkan pandangan silang keluar, serta masuknya cahaya
alami, di antara galeri. Meskipun galeri berdesakan relatif satu sama lain,
masing-masing adalah volume reguler dinding vertikal dan sudut siku-siku
melucuti konvensional mengingat konteks di luar. Sebagai ruang besar, putih,
bersih, memiliki elemen kubus yang membuka-tutup membentuk cerobong asap ruang
yang mencapai cahaya alami yang disaring melalui skylight.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar