Jumat, 31 Januari 2020

The Elbphilharmonie, senandung alunan Arsitektur yang Harmonis... [Analyzed by MKP - partofsharehere]


The Elbphilharmonie, senandung alunan Arsitektur yang Harmonis...

Jerman patut berbangga karena memiliki sebuah bangunan arsitekur yang salah satunya sangat spektakuler lebih tepatnya di Hamburg, yaitu The Elbphilharmonie Concert Hall. Berkat seorang arsitek yang mendesainnya, Herzog & de Meuron, The Elbphilharmonie ini adalah salah satu bangunan arsitektur yang khas berkonsep ruang konser terbesar dan memiliki akustik yang sangat canggih bahkan di seluruh dunia dengan ketinggian akhir 108 meter (354 kaki).
The Elbphilharmonie di Kaispeicher menandai lokasi yang diketahui sebagian besar orang di Hamburg, tetapi khusus untuk yang tidak pernah benar-benar memperhatikan. Sekarang telah dibangun dengan Concert Hall yang spektakuler, untuk menjadi pusat baru kehidupan sosial, budaya dan sehari-hari untuk orang-orang Hamburg dan untuk pengunjung dari seluruh penjuru dunia.
Di mulai dari eksteriornya, The Elbphilharmonie ini dibangun di atas site yang sebagian besar adalah air, jadi tapaknya sendiri dekat dengan tepi pantai. Hal ini menunjukkan bahwa concert hall ini berdiri di atas permukaan bidang yang sudah di urug hingga menjadi sebuah permukaan dan termasuk sebuah tempat yang nantinya akan dijadikan bangunan yang sangat penting. Biasanya, kesan penting atau sakral dan khusus ini dibangun diatas bidang datar yang ditinggikan atau diangkat. Hasil dari pengangkatan bidang ini sudah menjadi bidang khusus dalam sebuah lingkungan spasial yang lebih besar, karena lebih tinggi dari bidang dasar bangunan yang ada di sekitarnya. Peninggian pada bidang ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengkhususkan bangunan namun juga berarti sebagai bentuk penegasan batasan area disekeliling atau di sekitar tepi bangunan, sehingga bagian bawah superstruktur juga memiliki dinamika ekspresif, seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.


Mulai memasuki bentuk bangunannya, sebuah bahan kaca dari material yang baru banyak menimbulkan pelbagai persepsi yang berbeda-beda. Ada yang pertama kali melihatnya seperti atap layar sirkus yang diangkat, ada yang berpikiran seperti gelombang air dan ada yang melihatnya ibarat jejak kaki di tepi pantai atau pasir laut bekas sapuan pantai, hingga ada yang menyerupai layar mengangkat. Kekreatifan sang Arsitek telah berhasil menimbulkan banyak sekali persepsi yang berbeda-beda setiap orang, dan wujud bentuk bangunan yang menimbulkan persepsi adalah seperti gambar dibawah.

Bangunan The Elbphilharmonie ini juga berawal dari sebuah bentuk geometri yaitu persegi panjang lalu mengalami artikulasi bidang menjadi segitiga sama siku atau berbentuk mirip seperti trapesium, dengan artian yang bangunan awalnya berbentuk persegi panjang lalu di potong atau di cut menjadi segitiga sama siku atau trapesium. Kurang lebih proses artikulasinya seperti contoh sederhana dibawah ini.


Memasuki konstruksi bangunannya, menyerupai layar yang terangkat, atau seperti gelombang air, gunung es, ataupun bongkahan kristal, Arsitek sengaja mendesain seperti ini agar lebih menyatu dengan alam. Seperti yang kita ketahui bahwa bangunan ini berdiri diatas elemen air yang diratakan oleh sebuah bidang yang ditinggikan. Tentu kesan atau konsep harmonis melekat pada bangunannya, dan agar lebih menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Bentukan yang seperti ini duduk diatas atau diletakkan di atas bangunan yang memiliki konsep formal dan mengandung elemen-elemen geometris. Hal ini yang menjadikan bangunan ini lebih spesial karena berhasil menyatukan dua konsep yaitu konsep formal dan konsep harmonis menyatu dengan alam. Perbedaan dari dua konsep yang menyatu bisa dilihat dari gambar di bawah ini.


Sedangkan pada bagian fasadnya, terbuat dari fasad kaca yang terdiri dari sebagian panel melengkung, beberapa di antaranya diukir terbuka sehingga mengubah bangunan baru, bertengger di atas ibarat menjadi kristal raksasa berwarna-warni yang penampilannya terus berubah ketika menangkap pantulan langit, air dan kota. Pantulannya menimbulkan irama dan keharmonisan karena menampilkan refleksi dari lingkungan sekitarnya, pantulannya dapat dilihat di gambar dibawah ini.


Beralih ke interiornya, dalam bangunan The Elbphilharmonie ini jelas sekali tampak bagian tepi area mana saja yang terbentuk dengan jelas kemenerusan visualnya. Tidak hanya terlihat penekanan visualnya namun juga terlihat kemenerusan spasialnya yang masih dipertahankan, bahkan kedua faktor kemenerusan ini adalah hal yang sangat penting dalam sebuah bangunan khususnya concert hall. Gunanya selain untuk memperkuat konsep, kegunaan yang utama yaitu kenyamanan thermal di dalam sebuah bangunannya. Tentu dengan diaplikasikannya kemenerusan visual dan kemenerusan spasial yang baik akan membuat akses fisik menjadi mudah terpenuhi atau digapai. Dengan contoh nyata tangga dan bagian-bagian yang ditinggikan memerkuat konsep continuitynya, akses fisik seperti tangga atau ramp yang diterapkn dalam interiornya juga sangat harmonis tapi tetap continuity. Kemenerusan ini bisa dilihat jelas pada gambar dibawah ini.


Bagian detail-detail yang menunjang terciptanya sebuah konsep yang harmonis yaitu pada bagian eskalatornya.







Louis Vuitton Foundation, suguhan Arsitektur omnidirectional di tengah Kota Paris... [ Reviewed by MKP - partofsharehere]

Louis Vuitton Foundation, suguhan Arsitektur omnidirectional di tengah Kota Paris...


Salah satu mahakarya terbesar ditengah kota Paris tepatnya di 8, Avenue du Mahatma Gandhi Bois de Boulogne ini adalah karya dari salah satu arsitek ternama yakni Frank Gehry. Membutuhkan delapan tahun untuk dibangun, museum yang didedikasikan bagi dunia seni kontemporer dan menjadi kebanggaan baru bagi kota Paris. Louis Vuitton, brand fashion prestisius dari luxury market kembali terlibat dalam perkembangan dunia seni dengan dibangunnya Louis Vuitton Fondation, sebuah museum dan pusat budaya untuk mempromosikan seni kontemporer.

Secara historis, Frank Gehry menganut apa yang disebut Katolik Arsitektur, arsitek katedral selalu menggunakan kekuatan arsitektur yang subjective dan terkadang memberikan sentuhan mewah dan formal untuk mengondisikan penganutnya terhadap pesan yang disampaikan didalamnya. Dari segi bangunannya juga Frank memberi sentuhan formal yang berbeda daripada yang lainnya, jika arsitek lain mendesain bangunan dengan memberi elemen garis yang tegak lurus dan terkesan tegas namun berbeda dengan Frank, dia mendesain bangunan dengan menggunakan elemen garis lengkung yang di rangkai hingga membentuk sebuah bangunan sedemikian rupa yang menimbulkan persepsi yang berbeda mengenai bangunan seperti apakah Louis Vuitton Foundation ini?
Banyak persepsi yang menerjemankan seperti bentuk apakah bangunan ini, ada yang menginterpretasikan seperti layar, ada yang melihatnya seperti perahu, bahkan terlihat seperti sebuah istana kristal. Menurut standart Gehry, tidak ada museum kontemporer dimanapun yang lebih memikat daripada Louis Vuitton Foundation. Bangunan yang dilengkapi dengan beberapa material kaca yang 3 diantaranya ditempatkan sebagai atap adalah paling besar, bentuk bidang yang melengkung hampir mirip seperti layar tanpa perahu. Menurutnya, itu adalah sebuah visi yang memprovokasi seorang psikolog yang benar-benar sadar dan benar-benar mengamati bangunan itu seolah-olah terkesan betapa lembut tampak warnanya, dan hidup karena tumbuh-tumbuhan dan setting yang mengelilinginya tampak perpaduan harmonis.


Seperti bangunan klasik lainnya yang dihiasi kolom, atau bangunan bergaya Victoria dengan pola, warna, dan bahan dekoratif, Vuitton memimpin dengan fasad-fasadnya. Seperti halnya Charles Garnier yang membubuhi Beaux-Arts Opéra dengan kelereng polikromatik, Gehry menyelubungi gedungnya dengan lembaran kaca yang hening. Tapi tidak seperti bangunan planimetri Garnier, dengan fasad yang pada dasarnya melukis marmer pada permukaan dua dimensi, fasad Gehry adalah omnidirectional (pancaran kesegala arah) dan tiga dimensi, dengan 12 layar kaca yang melekat pada inti bangunan, ke apa yang ia sebut "gunung es." Layar tidak memiliki tujuan fungsional.
Setting bangunan yang seperti taman berhutan di sebelah taman anak-anak menjadikan Gehry melanggar salah satu perintah dasar modernisme, dia menghias, tanpa menahan dan meminta maaf. Artinya, dia telah membalik hierarki arsitektur yang biasa dan menjadikan fundamental yang tidak penting, mejadikan Vuitton sebagai karya yang sangat berbeda dari segi eksteriornya daripada karya-karya lainnya.


Perhatiannya terhadap desain eksterior tidak berarti dia mengabaikan interiornya, karya-karya Gehry terkenal dengan eksterior yang spektakuler namun kekurangannya berada pada interior yang sering di kritik karena hanya “dibungkus”. Tetapi, persepsi ini tidak berlaku pada karyanya Louis Vuitton Foundation ini, pengunjung masuk kedalam salah satu layar Vuitton yang menjadi sumber cahaya dan terkesan lapang. Aula kaca yang didominasi dengan grid-grid tegak dan terkesan kokoh menjulang tinggi membagi dua bangunan, memberikan pemandangan ke belakang ke kandang berkuda dan Jardin d’Acclimatation, taman anak-anak yang memengaruhi pemikiran Gehry.
Seperti dibuat dengan cermat seperti tas tangan Vuitton, satu set pintu kaca yang dibingkai dengan baja stainless yang disikat dan di tempatkan berada di kiri ke tangga di depan, dan satu set lainnya mengarah ke eskalator di belakang, di kedua sisi galeri yang mulai di ruang bawah tanah dan melanjutkan lantai pertama dan kedua. Sangat kokoh dan mewah adalah interpretasi yang disuguhkan pada interiornya, kesan formal tetap senantiasa terlihat melalui garis-garis kaca yang saling sambung-menyambung membentuk pola melingkupi bangunannya.


Sirkulasi didalam ruang interiornya disepanjang jalur tidak ditentukan polanya, pengunjung memulai perjalanan episodik melalui ruang tidak berulang yang memerkenalkan mereka kedalam galeri satu per satu. Sirkulasi pada Louis Vuitton Foundation ini bukanlah penghasil organisasi, seperti yang terjadi pada puncak ideologi Modernis, tetapi diaplikasikan pada ruang interstisial antar galeri yang dipesan sendiri seperti rumah di pedesaan pada abad pertengahan.


Penuh dengan elemen-elemen geometri, biasanya pengunjung bisa menemukan jalan mereka melalui gedung, sama halnya dengan Vuitton ini,walaupun bertentangan dengan semua aturan museum yang kotak dan rapat, justru daya tarik tersendiri ditonjolkan bangunan ini pengunjung dapat melihat-lihat dan mengamati sekitar menemukan jalan mereka, karena semua galeri di gedung berlantai tiga ini memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda dan dibiarkan longgar bukan rapat, padat, dan berbentuk kotak interiornya.
Di atas galeri, eskalator belakang dan tangga bersudut yang diproyeksikan di luar tubuh bangunan, mengarah ke teras atap bertingkat yang membentuk lereng bukit padang rumput beraspal, semuanya di bawah layar kaca yang ditopang pada hutan penopang baja bersudut dan balok-balok keluar dari bangunan inilah yang strukturnya menyerupai anggota-anggota pohon centenarian. Ruang terbuka publik bersama dengan jalur hiking melalui topografi yang berbukit baru dipindahkan ke atap. Lantai batu kapur dan panel dinding beton putih diatur dengan ketat sedemikian rupa dalam pola tertentu yang memberi semua permukaannya seperti bergerak. Gerakan grafis dan pahatan bangunan inilah yang mendorong pengunjung untuk bergerak di dalam ruang-ruang yang berputar. Bangunan bermaterial kaca tampaknya bergerak, lantai dan dinding ubin yang memiliki pola tampaknya bergerak, matahari membuat semuanya bergerak, mendorong pengunjung juga untuk bergerak.


Balok yang didesain Gehry yang miring ke segala arah yang berputar pada buku-buku jari baja yang besar namun dirancang secara elegan, mengomentari dan mendekonstruksi menara baja simetris Gustave Eiffel. Dia menetap di satu set galeri yang dirakit secara longgar di tiga lantai, masing-masing dengan ruang di antara yang memungkinkan pandangan silang keluar, serta masuknya cahaya alami, di antara galeri. Meskipun galeri berdesakan relatif satu sama lain, masing-masing adalah volume reguler dinding vertikal dan sudut siku-siku melucuti konvensional mengingat konteks di luar. Sebagai ruang besar, putih, bersih, memiliki elemen kubus yang membuka-tutup membentuk cerobong asap ruang yang mencapai cahaya alami yang disaring melalui skylight.

Paviliun Barcelona, Pengalaman Visual Dengan Reflektivitas... [Reviewed by MKP - partofsharehere]


Paviliun Barcelona, Pengalaman Visual Dengan Reflektivitas...

Sebuah karya arsitektur yang di sebut-sebut sebagai karya teladan arsitektur modern yakni Paviliun Barcelona telah menciptakan sebuah pengalaman fenomenologis terhadap pengunjung dan pengamatnya. Sebuah karya dari seorang arsitek Ludwig Mies van der Rohe ini berada di Barcelona – Spanyol, kesan sederhana mungkin adalah yang pertama terlihat dari Paviliun ini. Namun siapa sangka, proyek yang menghabiskan waktu yang relatif singkat ini berusaha menciptakan sebuah cara bagaimana pengunjung dan pengamatnya dapat melihat secara luas dan dapat berinteraksi dengan struktur bangunan yang terdiri dari garis, bidang, hingga menjadi ruang. Pavilion Barcelona ini mengajak pengunjung dan pengamatnya untuk merasakan sebuah petualangan visual nan apik yang diformulasikan dengan cermat dan ketelitian, dimana memunculkan pelbagai teknik persepsi yang beranekaragam.


Paviliun Barcelona memiliki kualitas asimetris yang kontras dengan lingkungannya. Ketika pengunjung mendekati Paviliun, terdapat elemen-elemen linier yang secara tidak langsung membentuk sebuah bidang yang berfungsi untuk mendefinisikan batas-batas sebuah ruang atau volumenya. Pengunjung akan dipaksa untuk mengikuti jalur linier yang berkelok yang kemungkinan besar mereka ikuti melalui keseluruhan eksposisi.


Paviliun ini berdiri diatas elemen-elemen berbentuk bidang (planar) atau yang biasa disebut bidang dasar. Bidang dasar sejatinya berfungsi untuk menopang segala jenis konstrusi arsitektural. Paviliun ini berdiri diatasnya dan menyatu dengan bidang dasarnya. Bidang planar yang menopang Paviliun ini dimanipulasi sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah podium yang ditinggikan bagi Paviliun itu sendiri. Dengan menempatkan Paviliun di atas podium, Mies telah menciptakan rasa kedatangan (welcoming) dan kemegahan, memberikan transisi kualitas spasial dimana membuat pengunjung tersadar bahwa mereka menapaki lingkungan yang khusus dan berbeda secara drastis darimana mereka datang.
Setelah keluar bangunan, bidang lantai yang tadinya ditinggikan, akan kembali rata dengan bidang planarnya. Sehingga kesan selaras tercipta disepanjang jalur perjalanan dan jalur pameran, elemen-elemen ini digunakan untuk mengembalikan kesan pengunjung kedalam rasa keteraturan dan simetri, memungkinkan mereka tersadar untuk merenungkan perjalanan mereka melalui bangunan.
Pavilion Barcelona ini diapit kedua sisinya oleh bidang fasad yang klasik nan monumental, tersusun secara aksial diantara deretan kolom ionik dan satu set tangga besar, dan penempatan Paviliun sendiri menciptakan datum atau data yang didalamnya dapat diukur asimetrisnya. Meskipun Paviliun ini sangat asimetris dalam rencana strukturalnya, namun mampu menciptakan rasa keteraturan. Misalnya sebuah bidang dindingnya, ketika dilihat dalam rencana  bangunan, terlihat seperti ditempatkan secara acak tak beraturan dan tentunya tidak simetris, namun ketika ditinjau pada ketinggian tertentu dapat dilihat bahwa bahan itu sendiri menampilkan banyak bidang simetri cermin.


Hal yang sama berlaku untuk kolam, pelat atap, jendela, yang masing-masing memiliki setidaknya tiga sumbu simetri refleksi yang menghasilkan penjajaran yang berbeda antara setiap komposisi struktural asimetris dan bahan bangunan yang sangat simetris. Konsep-konsep tersebut berkerja sama mengganti keteraturan bahan untuk rencana simetrinya, mengutip dari perkataan H.R. Hitchcock dan Philip Johnson: “Standarisasi secara otomatis memberikan tingkat konsistensi yang tinggi di bagian-bagiannya. Oleh karena itu, arsitek modern tidak memerlukan disiplin simetri bilateral atau aksial untuk mencapai tatanan estetika. Skema desain asimetris sebenarnya lebih disukai secara estetika dan teknis. Untuk asimetri tentu meningkatkan minat umum komposisi.”
Dengan mengutamakan struktur asimetrinya dengan bahan dipadu bidang dan elemen-elemen komponen simetris yang reflektif, Mies telah menciptakan sebuah bangunan yang secara visual unik, walaupun kesan berbeda terlihat di lingkungannya, namun inilah yang menjadi sebuah komposisi yang harmonis dan menyenangkan, dimana ruang tersebut mengandung unsur geometri.




Selain pemilihan lokasi dan komposisi bangunan yang sangat teliti dan cermat bagi Paviliun secara menyeluruh, Mies sangat selektif dalam memilih material dan penempatan bahan yang akan digunakan pada bangunannya. Sejumlah besar proses desain dikhususkan untuk mengeksplorasi kulit pembungkus bidang pada partisi interiornya, yang dikenal sebagai dinding terapung. Menolak untuk bergantung pada material untuk elemen penting ini, Mies akhirnya memutuskan sepotong lempengan onyx emas dan disekitar bagian inilah sisa Paviliun yang lain muncul karena ukurannya menentukan ketinggian ruang. Ketika ketinggian bangunan terlaksana, Mies mulai beralih untuk mendesain furnitur dan memilih patung Morgen berdasarkan dimensi ini.


Setelah memilih untuk menggunakan dinding onyx, warna material dan struktur mulai membentuk artikulasi. Kilapan yang sejajar bersandingan, marmer yang berurat dengan kaca yang tembus pandang, dan refleksinya meningkatkan pengalaman spasial. Penggunaan dinding travertine menggemakan material disekitarnya, sementara marmer hijau ditempatkan di sekitar kolam tampaknya merupakan kelanjutan dari kanopi diatas yang dengan kuatnya menancapkan struktur yang otonom ke bangunan spesifik ini.
Pada bangunan Paviliun Barcelona ini juga menimbulkan persepsi terhadap peran reflektivitas dan transparansinya. Secara fisik Paviliun dapat dibangun dari material travertine, onyx, kaca, baja, atau plesteran, yang membentuk pengalaman ruang adalah refleksinya. Mungkin pada saat itu bahan-bahan yang digunakan sebagai produk teknologi sudah biasa, tetapi kemungkinan besar Mies memilihnya dengan selektif karena reflektivitasnya. Prinsi ini terlihat jelas pada kolom baja yang dipoles begitu ramping dan reflektif, sehingga tampak sepenuhnya hilang tersamarkan.




Material selanjutnya yang digunakan yaitu air, melapisi dasar kolamnya dengan batu hitam akan menjadi cermin horizontal besar dan menciptakan bidang simetri yang menyeluruh. Saat pengunjung mengelilingi paviliun, efek yang ditimbulkan adalah kabur atau berpencar karena dinding dibubarkan oleh pantulan mereka sendiri. Kolam sendiri berupa bidang dasar yang diturunkan atau direndahkan agar menjadi bidang vertikal yang digunakan sebagai wadah volume air atau konstruksi arsitektur. Bidang vertikal hasil penurunan ini akan menciptakan batas-batas areanya dengan membentuk dinding disekeliling ruang tersebut. Area ruangnya ditegaskan dengan kontras terhadap area permukaan yang mengelilinginya.

Holocaust Memorial - Berlin [Reviewed by MKP - partofsharehere]


Introduction
Sebuah desain dari seorang arsitek A.S. Peter Eisenman, yakni Holocaust Memorial adalah pemenang di antara 553 proyek yang disajikan selama kompetisi 1995 dan 1998. Karya Eisenman menafsirkan maksud sebuah monumen bukan nasional tetapi sebaliknya, ia mencerminkan kejahatan yang dilakukan karena negara. Ini adalah simbol kesediaan Jerman untuk menghadapi masa lalunya yang mengerikan, sebuah monumen bagi seluruh rakyat Jerman. Usulan lain untuk proyek ini adalah plat semen seluas 19.000 meter persegi, dengan nama semua korban Holocaust.

Location
Monumen ini ditanamkan di lahan yang luas di pusat kota bersejarah Berlin, Jerman. Itu dibatasi oleh Ebertstrabe, Behrenstrabe, Cora Berliner Strasse dan Hannah Arendt Strabe antara Potsdamer Platz dan Reichstag, gedung Parlemen Jerman dengan kubah terkenal oleh Sir Norman Foster.

Tempat dengan sejarah
Beberapa meter ke utara, adalah Gerbang Brandenburg. Ke Timur, rumah-rumah yang berasal dari periode arsitektur terakhir Jerman Timur, sementara jalur selatan di sepanjang Vobstrasse diserap oleh representasi beberapa negara federal Jerman di ibukota. Ini dibangun pada tahun 90-an di mana Kanselir Reich, dirancang pada tahun 1938 oleh Albert Speer untuk Adolf Hitler, dan dihancurkan selama Perang Dunia II, hanya menyisakan berdiri bunker yang digunakan oleh Hitler, ditemukan pada tahun 1990 dan sekali lagi naik segel. Di sebelah barat monumen, di seberang Ebertstrasse lokasinya dekat dengan Taman Tiergarten dan ke selatan, bangunan-bangunan besar di Potsdamer Platz.
Pada akhir abad kedelapan belas, tanah di mana monumen itu berdiri Holocaust adalah bagian dari taman Menteri, dikelilingi oleh rumah-rumah Barok aristokrat di Wilhelmstrasse, yang setelah 1850 dikonversi menjadi gedung pelayanan.



Konsep
Ini adalah halaman besar yang dibentuk oleh balok semen, sebagai kuburan, kamp konsentrasi, atau jalan buntu maze; antara kain padat yang pengunjung dapat berjalan dalam kesendirian. Tidak ada plakat, prasasti atau patung yang disarankan untuk orang yang berpikir atau merasakan. Semua item dipesan dalam komposisi ini, kotak dan garis bergabung menjadi satu, sehingga memiliki kecenderungan geometris.



Kotak-kotak seperti tertanam diatas tanah dari bawah menjulang keatas, seperti ekstensi blok beton di atas tanah. Di bawah mereka berfungsi sebagai platform informasi sedangkan pola peringatan di atas tanah juga bergema di langit-langit. Dengan demikian mengutip dari perkataan Wilcken, "bidang prasasti dan pameran harus melebur menjadi kesatuan yang bermakna,"  konten bersejarah yang menekan, dengan demikian dapat diselaraskan dengan desain memorial yang tidak biasa.
Setiap lempengan batu memiliki bentuk dan ukuran yang unik, ditempatkan sesuai desain arsitek. Dengan melakukan hal itu, arsitek Peter Eisenman menunjukkan keunikan dan kesamaan orang-orang yang dibunuh pada masa Holocaust, yang juga dikenal sebagai Shoah.



Tujuannya adalah untuk menciptakan "lautan" semen, di mana tidak ada pintu masuk utama dan bukan titik keberangkatan atau kedatangan. Dari kejauhan, situs itu tampak gelap, hampa, dan padat, seperti massa yang besar.



Ketika kita mulai berjalan di dalam kotak-kotak blok menjadi lebih mengesankan, seperti yang terlihat dari sudut yang berbeda, dan mulai merindukan kebisingan jalan raya. Interiornya memang tidak teratur, dengan kontur tanah yang miring, mencoba mengingat- ingat disorientasi para korban Holocaust.



Pada saat yang sama, semen, warna, dan materi aseptik menciptakan perasaan hampa. Niatnya, mengutip dari perkataan Wilcken adalah untuk menghindari "menakuti" para pengunjung. Dan kotak-kotak kaca yang diterangi tenggelam ke lantai "Ruang Dimensi" - ruangan yang ditujukan untuk memberikan gambaran tentang skala pembunuhan - berhubungan langsung dengan filosofi ini.



Ruang
Teras terdiri dari 2711 labirin paralel epipeds gabungan kotak-kotak dan garis membentuk blok dari berbagai ketinggian, dari 20 sentimeter hingga 4,70 meter. Gabungan kotak-kotak dan garis membentuk blok-blok yang di susun dalam garis lebar garis ortogonal, pada medan berbukit dan jarak 95 sentimeter dari satu sama lain, sehingga hanya memungkinkan satu orang pada satu waktu. Setiap blok memiliki ukuran 2,38 x 0,95 meter.



Sementara dari luar kotak-kotak blok tampak nyaris selaras sempurna, masuk ditemukan yang sedikit miring, baik secara vertikal maupun horizontal. Beralih ke lantai terdiri dari serangkaian ubin batu dan lampu tersembunyi, menggambarkan topografi bergelombang, yang memungkinkan pengunjung untuk "menghilang" di antara lempengan, seperti perumpamaan menyelam ke dalam air.
Area bawah tanah dari monumen ini menampung ruang yang dikhususkan untuk dokumen-dokumen sejarah tentang Holocaust, sebagai perjalanan yang diartikulasikan ke dalam empat kamar, di mana pengunjung dapat memperoleh informasi di situs tersebut.

Pusat Informasi
Area bawah tanah dari monumen ini menampung ruang-ruang yang didedikasikan untuk dokumentasi historis Shoah, sebagai rute artikulasi di empat kamar, di mana pengunjung dapat memperoleh informasi dari situs.
Desain arsitektur pusat juga dirancang oleh Eisenman dan paparan yang dikumpulkan oleh desainer perumahan Dagmar von Wilckern Berlin. Dari monumen tangga turun langsung ke Pusat yang desain arsitekturalnya merupakan penghargaan simbolis sekuler bagi para martir, sebagai Peringatan Yahudi di Israel, yang dirancang oleh arsitek Moshe Safdie. Ketika menuruni tangga, aula pengaksesan berfungsi sebagai ruang depan di mana teks dan foto yang menjelaskan latar belakang sejarah disajikan. Di ruang pertama, "Dimensi Kamar", dindingnya berwarna abu-abu muda, dengan panel kaca diletakkan di lantai sehingga mencerminkan pola Monumen contrails di atas. 3 kamar berikut, "Kamar Keluarga", "Kamar Nama" dan "Kamar Situs" merujuk pada keluarga, nama, tempat, dan situasi yang terkait dengan Holocaust.

Material
Monumen bagi orang-orang Yahudi yang hilang di Eropa selama rezim Nazi adalah sebuah lapangan yang ditutupi dengan kotak-kotak dan garis yang membentuk balok-balok beton berbentuk trapesium dengan ketinggian yang berbeda dan warna abu-abu yang tak terhitung jumlahnya yang bersandar pada arah yang berbeda di medan berbukit. 2.711 blok beton digunakan dengan perawatan anti- grafiti.
 
 

Konstruksi
Setiap blok memiliki lebar 238 cm dan panjang 95 cm dan telah ditempatkan dalam barisan yang rapat. Ketinggian mereka berkisar dari permukaan tanah dan 4,5m di pusat monumen. Setiap lempengan telah diangkat pada fondasinya sendiri dan dapat dimiringkan hingga 2 ke arah yang berbeda. Lantai pertama dimiringkan dalam satu arah dan kemudian yang lain, menyisakan koridor selebar 95 cm di antara blok, cukup untuk melewati kursi roda atau satu orang, bukan dua, maksudnya adalah bahwa setiap pengunjung secara individual tinggal di ruang tamu.
Selain balok besar dan medan bergulir, cahaya adalah elemen lain yang secara efektif terlibat dalam persepsi tempat. Ketika seorang pengunjung berada di tengah-tengah monumen Anda dapat merasakan rasa terkurung, terutama ketika pengunjung lain tampaknya menghalangi pandangan perimeter jauh. Perasaan ini menjadi lebih dalam ketika langit mendung dan lempengan beton menunjukkan penampilan yang kasar dan kusam.

Senin, 17 Desember 2018

Nongkrong Asyik di Kafe Vintage-Minimalist Jakarta

   Destinasi tempat nongkrong asyik kali ini adalah Cliq Coffee and Kitchen, terletak di area yang padat penduduk tidak menyurutkan pengelola kafe ini berpindah haluan. Salah satu penyumbang kafe hits di Jakarta Selatan ini memiliki design bangunan interior yang tidak kalah menarik dengan kafe-kafe hits lainnya. 


   Kafe seluas 200 meter persegi ini terdiri dari 2 lantai, termasuk area indoor dan outdoor. Tempat ini sangat cocok untuk sharing santai hingga menikmati secangkir kopi. Meskipun luasan terbatas tetapi dengan renovasi yang unik memberikan kesan luas, organisasi ruang disusun lebih efisien dengan tetap mempertahankan pencahayaan alami, sehingga suasana tetap terang dan ringan.


   Mengingat kekurangan dari kafe ini adalah lahan yang terbatas, designer selalu mempunyai strategi untuk mengatasinya. Pola lengkungan diterapkan pada langit-langit dalam ruangan agar terkesan luas dan tidak monoton. Geometri lengkungan diadaptasi dari arsitektur klasik sebagai elemen pemersatu dalam bangunan.


   Bentuk lengkungan disusun berderet memanjang dari interior hingga ke fasad bangunan. Pada fasad bangunan, pemilihan warna hijau muda yang terkesan soft dan peach yang sangat lembut semakin memperkuat karakter setiap geometri lengkungan, sedangkan warna putih sebagai elemen warna pemersatu.


   Motif dari material bar itu sendiri menjadikan titik fokus pada interior ruangan ini. Furniture memakai material alam yaitu kayu, sebagai penyeimbang geometri yang datar dengan memberi kesan lebih hangat terhadap ruangan. 


   Memasuki lantai 2, terdapat ruang terbuka nan asri. Didukung dengan pemakaian furniture unik memperkuat gaya vintage pada bagian ini. Fasad didominasi warna putih, berfungsi untuk penetral cahaya matahari agar tidak langsung terserap oleh bangunan. Ditambah dengan vegetasi yang menyempurnakan view dari luar maupun dari dalam bangunan.

source: https://www.archdaily.com/906889/cliq-coffee-studio-kota

Bersantai Dalam Rumah Bernuansa Hutan Tropis

   Dewasa ini, konservasi alam datang dari masyarakat yang berusaha dekat dengan alam istilahnya adalah 'Back to Nature'. Mengingat banyak lahan hijau yang semakin sedikit akibat pembangunan yang semakin berkembang, berawal dari itulah menghasilkan ide untuk membuat sebuah hunian yang berkonsep Forest House. Berikut ini adalah salah satu contoh lahan hijau yang dimanfaatkan untuk hunian ramah lingkungan yakni Studio Miti yang berada di Thailand.


   Tempat ini dibangun diatas lahan yang sama sekali tidak perlu menebang pohon, dilihat dari orientasi denah yang tidak beraturan namun tetap elok dipandang, pohon-pohon tumbuh disekitarnya. Terdapat 4 bangunan, yang masing-masing memiliki 5 ruang, yakni teras, lorong, kamar tidur, kamar mandi, dan area terbuka hijau.

 

   Pada awalnya mereka mendesain 4 rumah ini masing-masing 1,2 meter diatas permukaan tanah dan setiap rumah berhubungan dengan teras. Tetapi, pada saat pembangunan, mereka  menyesuaikan tinggi dari pepohonan disekitar lahan. Jadi masing-masing 4 hunian ini mempunyai ketinggian bangunan yang berbeda-beda karena menyesuaikan dengan tinggi pepohonan di sekitarnya.


   Pada setiap sisi hunian, memiliki letak teras yang berbeda-beda, ini bertujuan untuk menyesuaikan view on point pada masing-masing sudut hunian agar bisa memaksimalkan pandangan mereka. Begitu juga dengan area terbuka hijau, perletakan yang sesuai pada tempatnya juga berpengaruh dengan pertumbuhan vegetasi dilihat dari kecukupan untuk mendapatkan sinar matahari dan juga mempertahankan keindahan view ke dalam hunian.


   Material yang digunakan juga sangat ramah lingkungan, yaitu memakai kayu sebagai material utama. Konsep hunian panggung seperti ini memang sangat cocok diterapkan pada semi hutan seperti ini. Selain itu, mereka juga mengadaptasi dari hunian tradisional zaman dahulu, dimana rumah panggung dibangun selain memiliki nilai-nilai kepercayaan terhadap leluhur, juga untuk menghindari binatang buas, reptil liar dan mematikan.


   Struktur panggung juga dinilai sangat efektif diterapkan pada hunian untuk menghindari terjadinya gempa bumi. Struktur panggung yang kokoh dapat melindungi penghuni sehingga konsep seperti ini banyak ditemukan di tempat-tempat yang rawan terjadi gempa.

source: https://www.archdaily.com/875884/forest-house-studio-miti/?ad_source=myarchdaily&ad_medium=bookmark-show&ad_content=current-user

Jumat, 07 Desember 2018

Menjelajahi Tropical House Dari Kolaborasi Duo Architects

   Bangunan bernuansa tropis banyak dijumpai di Indonesia, salah satunya adalah DL House karya Arsitek Don Pieto dan Henny Suwardi. Rumah yang dibangun di daerah pemukiman di Jakarta ini menempati lahan seluas kurang lebih 337.5m2 dan selesai dibangun pada tahun 2017 silam.


   Berbeda dengan rumah-rumah disekitar proyek ini, yang sebagian besar disesuaikan dengan gaya Mediterania, rumah ini didesain khusus untuk mewakili generasi milenial agar lebih tertarik pada konsep modern tetapi tidak lepas dari kealamian dan nuansa tropis.


   Organisasi ruang pada rumah ini memang cukup sederhana untuk pasangan muda yang sudah memiliki anak, rumah ini terdiri dari ruang tamu, kamar tidur utama, kamar tidur anak, kamar tidur tamu, dapur, kamar mandi luar, ruang bersantai. Karena Client tidak menyukai konsep tertutup atau close space, maka dibuatlah seperti konsep Open Space bernuansa tropis yang elok dipandang. Kolam dangkal mengelilingi permukaan bertujuan untuk menurunkan suhu rumah pada siang hari.


   Ide dasar dari desain rumah ini adalah untuk menciptakan sebuah ruang dimana penghuni rumah dapat merasakan nuansa alami tetapi tetap dapat menikmati fasilitas kontemporer nan modern. 


   Rumah ini terdiri dari 3 lantai, untuk lantai pertama terdapat garasi, area servis, ruang terbuka hijau kecil atau taman yang menyambung hingga ke lantai dua. Masuk ke lantai 2, terdapat ruang tamu dan ruang serbaguna yang bisa dijadikan ruang santai, menonton TV, dan diskusi atau sharing. Menuju lantai 3, terdapat kamar tidur utama, kamar tidur anak, dan kamar tidur tamu.


   Penghuni rumah bisa merasakan energi positif yang mengalir ke seluruh ruangan, mereka bisa menikmati tetesan air dan suara gemericik air yang mengalir, menghirup udara segar, melihat tanaman hijau, bisa menapaki bebatuan alam yang dingin dan menjejaki parquet kayu yang hangat. Dengan begitu, indera-indera akan bangkit dan merasakan energi positif dari konsep rumah ini.


   Ruangan yang Open Space tanpa banyak penghalang juga mendukung konsep Sustainable. Dengan adanya kisi-kisi pada plafon membantu cahaya matahari masuk sedikit demi sedikit dengan sangat apik dan arsitektural yang menghasilkan pola bayangan berbeda setiap harinya. 


   Perpaduan palet warna yang sederhana, yakni warna alami dari material itu sendiri, sangat apik dan selaras dipadukan dengan warna putih bersih pada tembok. Warna gelap dari bebatuan alami juga menciptakan kesan monochrome dengan details facade, dipadu dengan perletakan vegetasi yang seimbang sebagai pelengkap interior.

 source: https://www.archdaily.com/899790/dl-house-dp-plus-hs-architects